ARTICLE INTEGRITY
RETA DATE: ART-28-K
Language: Umum
License: MIT
Obrolan sederhana dengan seorang penjual angkringan tentang warungnya yang sering tutup karena acara kampung membuat saya merenungkan kembali arti kesibukan, pekerjaan, hubungan sosial, dan kehidupan. Di tengah dunia yang semakin sibuk, jangan sampai kita terlalu fokus mengejar pekerjaan hingga lupa membangun hubungan dengan keluarga, teman, tetangga, dan orang-orang yang mungkin justru akan hadir ketika kita sedang membutuhkan pertolongan.
Beberapa waktu lalu saya mampir ke sebuah warung angkringan untuk ngopi. Tempatnya sederhana, seperti kebanyakan angkringan yang kita temui di pinggir jalan: bangku panjang, meja seadanya, kopi panas, gorengan, dan sate-satean. Tidak ada yang istimewa sebenarnya. Tetapi justru dari tempat sederhana seperti itu kadang muncul obrolan yang membuat kita berpikir lebih jauh.
Saya kemudian bertanya kepada bapak penjualnya,
“Kok sering tutup, Pak?”
Beliau menjawab santai,
“Iya, Mas. Saya ada acara kampung banyak.”
Saya hanya mengangguk waktu itu. Tidak ada pembicaraan panjang setelahnya. Tetapi entah kenapa, kalimat sederhana tersebut justru terus teringat setelah saya meninggalkan warung.
"Saya ada acara kampung banyak."
Kalau dipikir dari sudut pandang pekerjaan, warung tutup berarti ada kesempatan mencari uang yang dilewatkan. Ada pembeli yang mungkin tidak datang. Ada pendapatan yang tidak masuk. Apalagi bagi pedagang kecil, waktu berjualan tentu sangat berarti.
Tetapi bapak itu tetap memilih pergi.
Mungkin karena baginya, acara kampung bukan sesuatu yang berada di luar kehidupannya. Itu justru bagian dari kehidupannya.
Dan dari situlah saya mulai memikirkan kehidupan saya sendiri.
Ketika Sibuk Menjadi Sebuah Kebanggaan
Saya tidak tahu sejak kapan kita mulai menganggap kesibukan sebagai sesuatu yang membanggakan. Ketika seseorang bertanya, “Bagaimana kabarnya?” jawaban yang sering keluar adalah, “Baik, lagi sibuk banget.”
Saya pun sering begitu.
Pagi bekerja, siang mengejar pekerjaan, sore masih ada yang harus diselesaikan. Pulang ke rumah, badan mungkin sudah berada di rumah, tetapi pikiran belum tentu ikut pulang. Masih memikirkan email, pekerjaan besok, target yang belum selesai, atau pesan dari kantor yang masuk melalui WhatsApp.
Kemudian besok semuanya dimulai lagi.
Yang agak aneh, kesibukan seperti itu lama-lama terasa normal. Bahkan ketika sedang tidak sibuk, kita bisa merasa ada sesuatu yang kurang. Seolah-olah hidup yang baik adalah hidup yang penuh dengan aktivitas.
Padahal saya mulai bertanya: sibuk untuk apa?
Saya bekerja untuk mendapatkan uang. Uang dibutuhkan untuk hidup. Saya bekerja lebih keras supaya kehidupan saya dan keluarga bisa menjadi lebih baik. Sampai di sini semuanya masuk akal.
Tetapi kalau saya terlalu sibuk bekerja sampai tidak punya cukup waktu untuk menjalani kehidupan itu sendiri, saya kemudian bingung. Apa sebenarnya yang sedang saya kejar?
Pertanyaan itu terdengar sederhana, tetapi tidak mudah dijawab.
Ada Kehidupan yang Tidak Masuk dalam Kalender Kerja
Saya kemudian teringat lagi pada bapak penjual angkringan tadi. Ia menutup warung karena ada kegiatan kampung. Mungkin bagi sebagian orang, kegiatan seperti itu tidak terlalu penting. Tidak menghasilkan uang. Tidak menambah omzet. Bahkan bisa dianggap mengurangi waktu produktif.
Tetapi mungkin kita memang terlalu sering mengukur sesuatu hanya dari apa yang bisa dihitung.
Berapa uang yang didapat? Berapa jam kerja? Berapa banyak pekerjaan yang selesai? Berapa target yang tercapai?
Ada banyak hal penting dalam kehidupan yang tidak masuk ke dalam angka-angka tersebut.
Misalnya, berapa kali saya datang ketika teman membutuhkan saya? Berapa kali saya menyempatkan diri mengunjungi keluarga? Berapa banyak waktu yang saya habiskan bersama orang tua? Seberapa dekat saya dengan tetangga? Apakah saya mengenal orang-orang yang tinggal di sekitar rumah saya?
Pertanyaan-pertanyaan semacam ini jarang muncul ketika kita sedang sibuk mengejar karier.
Padahal justru hubungan dengan orang lain mungkin merupakan salah satu kebutuhan manusia yang paling mendasar.
Dalam psikologi ada konsep yang disebut need to belong, yang diperkenalkan secara luas melalui kajian Roy Baumeister dan Mark Leary pada 1995. Mereka menjelaskan bahwa manusia memiliki kebutuhan yang kuat untuk membentuk dan mempertahankan hubungan interpersonal yang stabil dan bermakna. Hubungan sosial bukan sekadar tambahan yang membuat hidup lebih menyenangkan; keterikatan dengan orang lain merupakan bagian penting dari kehidupan manusia.
Kalau dipikir-pikir, sebenarnya kita sudah merasakan hal itu sejak kecil.
Ketika senang, kita mencari seseorang untuk berbagi cerita. Ketika sedih, kita ingin didengarkan. Ketika mengalami masalah, kita mencari orang yang kita percaya.
Kita memang membutuhkan manusia lain.
Bukan sekadar orang yang ada di daftar kontak, tetapi orang yang benar-benar merasa dekat dengan kita.
Kita Bisa Terhubung dengan Banyak Orang, Tetapi Tetap Sendirian
Ironisnya, zaman sekarang seharusnya membuat kita semakin mudah terhubung. Saya bisa menghubungi siapa saja dalam hitungan detik. Ada WhatsApp, media sosial, email, berbagai grup komunitas, dan macam-macam platform yang membuat jarak hampir tidak berarti.
Tetapi banyaknya koneksi tidak selalu berarti kedekatan.
Saya bisa memiliki ratusan kontak, tetapi ketika benar-benar membutuhkan bantuan mungkin hanya ada beberapa nama yang berani saya hubungi.
Saya bisa memiliki banyak teman di media sosial, tetapi belum tentu ada seseorang yang tahu kalau sebenarnya saya sedang tidak baik-baik saja.
Di sini saya merasa istilah “teman” dan “koneksi” memang perlu dibedakan. Koneksi bisa dibuat dengan satu klik. Hubungan membutuhkan waktu.
Dan waktu inilah yang sering kita berikan kepada pekerjaan, tetapi lupa kita berikan kepada manusia.
WHO dalam laporan Commission on Social Connection juga menekankan bahwa keterhubungan sosial tidak hanya berbicara tentang jumlah orang yang kita kenal. Ada struktur hubungan, fungsi dukungan yang kita berikan dan terima, serta kualitas hubungan tersebut. WHO pada 2025 bahkan menempatkan social connection sebagai persoalan kesehatan masyarakat karena kesepian dan isolasi sosial memiliki dampak yang nyata terhadap kesehatan dan kesejahteraan.
Jadi mungkin masalahnya bukan karena saya kekurangan orang.
Mungkin saya kekurangan hubungan yang benar-benar hidup.
Ketika Saya Membayangkan Sedang Kesusahan
Ada satu cara sederhana yang kemudian saya gunakan untuk melihat persoalan ini.
Saya membayangkan suatu hari saya sedang berada dalam masalah besar.
Misalnya kehilangan pekerjaan. Mengalami musibah. Sedang membutuhkan bantuan. Atau berada dalam kondisi yang membuat saya tidak tahu harus meminta pertolongan kepada siapa.
Kemudian saya bertanya:
Siapa yang akan saya telepon?
Bukan siapa yang ada di daftar kontak. Tetapi siapa yang benar-benar akan saya telepon.
Jawabannya ternyata tidak banyak.
Mungkin keluarga. Mungkin teman lama. Mungkin tetangga. Mungkin seseorang yang selama ini tidak pernah saya anggap sebagai orang penting.
Dan di situlah saya merasa sedikit tertampar.
Karena orang-orang yang kemungkinan besar akan membantu saya ketika sedang susah adalah orang-orang yang mungkin selama ini justru tidak mendapatkan banyak waktu dari saya.
Saya bisa menghabiskan berjam-jam bersama orang-orang di kantor. Saya bisa sangat serius menjaga hubungan dengan klien atau rekan kerja. Tetapi belum tentu saya menyediakan waktu yang sama untuk teman, keluarga, atau lingkungan tempat saya tinggal.
Padahal perusahaan bisa mengganti saya.
Jabatan bisa berpindah.
Proyek bisa selesai.
Tetapi hubungan dengan manusia lain tidak bekerja seperti itu.
Hubungan membutuhkan kehadiran.
Kita Sering Berinvestasi untuk Masa Depan, Tetapi Lupa Berinvestasi pada Hubungan
Kita sering mendengar nasihat tentang investasi.
Investasi uang. Investasi pendidikan. Investasi properti. Investasi bisnis. Semuanya untuk masa depan.
Saya pikir tidak ada yang salah dengan itu.
Tetapi ada satu bentuk investasi yang jarang kita bicarakan: investasi hubungan.
Modalnya bukan uang. Modalnya adalah waktu dan perhatian.
Datang ketika seseorang mengundang kita. Menjenguk teman yang sakit. Membantu tetangga. Menghadiri acara keluarga. Ikut kegiatan kampung. Menyempatkan diri untuk duduk dan mendengarkan cerita seseorang, meskipun cerita itu tidak memberikan keuntungan apa pun kepada kita.
Hal-hal seperti itu kelihatannya kecil.
Tetapi hubungan memang dibangun dari hal-hal kecil yang dilakukan berulang kali.
Harvard Study of Adult Development, salah satu penelitian longitudinal paling panjang mengenai kehidupan orang dewasa, juga menemukan pola yang konsisten mengenai pentingnya hubungan yang baik. Orang-orang yang memiliki hubungan sosial yang lebih baik dengan keluarga, teman, dan komunitas cenderung memiliki kehidupan yang lebih sehat dan bahagia dibandingkan mereka yang lebih terisolasi.
Menariknya, setelah mengikuti kehidupan manusia selama puluhan tahun, yang terus muncul bukanlah soal siapa yang memiliki pekerjaan paling bergengsi atau uang paling banyak.
Salah satu hal yang begitu penting justru adalah hubungan yang baik.
Saya rasa ini cukup untuk membuat kita berhenti sejenak.
Jangan Sampai Saya Sibuk Mencari Kehidupan, Tetapi Lupa Menjalaninya
Saya tidak sedang mengatakan bahwa pekerjaan itu tidak penting.
Pekerjaan penting. Saya bekerja karena ada kebutuhan dan tanggung jawab. Saya ingin mendapatkan penghasilan yang baik. Saya ingin hidup lebih nyaman. Saya ingin bisa membantu keluarga.
Semua itu masuk akal.
Yang perlu saya pertanyakan mungkin bukan berapa banyak saya bekerja, tetapi apa yang terjadi pada kehidupan saya ketika saya bekerja sebanyak itu.
Jangan sampai saya bekerja keras untuk membeli rumah yang nyaman, tetapi tidak pernah punya waktu untuk berada di rumah.
Jangan sampai saya bekerja keras untuk memberikan kehidupan yang lebih baik kepada keluarga, tetapi keluarga justru hanya mendapatkan sisa waktu dan sisa tenaga saya.
Jangan sampai saya mengejar masa depan sambil mengorbankan terlalu banyak bagian dari kehidupan yang sedang saya jalani hari ini.
Karena masa depan itu belum tentu datang dalam bentuk yang kita bayangkan.
Mungkin Saya Perlu Sesekali "Menutup Warung"
Setelah memikirkan semua itu, saya kembali kepada warung angkringan tadi.
Warung itu sering tutup.
Awalnya saya melihatnya sebagai sesuatu yang agak aneh. Bukankah pedagang seharusnya berjualan sebanyak mungkin?
Tetapi sekarang saya melihatnya sedikit berbeda.
Mungkin sesekali warung memang perlu tutup.
Bukan karena kita malas bekerja.
Bukan karena pekerjaan tidak penting.
Tetapi karena ada kehidupan lain yang juga perlu dijalani.
Mungkin saya juga perlu belajar menutup warung saya sendiri.
Menutup laptop lebih cepat.
Mematikan notifikasi pekerjaan.
Pulang tanpa membawa semua urusan kantor ke meja makan.
Menghubungi teman yang sudah lama tidak saya temui.
Mengunjungi orang tua.
Menyapa tetangga.
Datang ke acara keluarga.
Atau sekadar duduk ngopi bersama orang lain tanpa membicarakan pekerjaan.
Tidak ada targetnya.
Tidak ada KPI-nya.
Tidak ada laporan yang harus dibuat.
Dan mungkin justru karena itulah kegiatan-kegiatan tersebut penting.
Pada Akhirnya, Yang Datang Ketika Kita Jatuh Adalah Manusia
Saya tidak tahu apakah bapak penjual angkringan itu menyadari bahwa jawaban sederhananya telah membuat saya berpikir cukup jauh.
Mungkin bagi dia, “ada acara kampung” hanyalah alasan biasa kenapa warungnya tutup.
Tetapi bagi saya, kalimat itu seperti pengingat kecil.
Bahwa hidup ternyata bukan hanya tentang mencari nafkah.
Bukan hanya tentang pekerjaan.
Bukan hanya tentang menjadi produktif.
Ada bagian lain dari kehidupan yang sering kita abaikan karena tidak bisa dihitung dengan uang.
Kehadiran.
Pertemanan.
Keluarga.
Tetangga.
Komunitas.
Rasa memiliki.
Dan mungkin yang paling penting:
orang-orang yang akan datang ketika kita sedang membutuhkan pertolongan.
Saya kemudian berpikir, mungkin salah satu ukuran keberhasilan yang selama ini saya lupakan adalah bukan hanya seberapa tinggi saya bisa naik, tetapi siapa saja yang masih ada ketika saya jatuh.
Bukan berapa banyak orang yang mengenal nama saya, tetapi berapa banyak orang yang benar-benar mengenal saya.
Bukan berapa banyak kontak yang tersimpan di telepon, tetapi siapa yang bisa saya telepon ketika hidup sedang terasa berat.
Dan mungkin bukan seberapa sibuk saya hari ini, tetapi apakah di tengah kesibukan itu saya masih punya waktu untuk menjadi manusia.
Warung bapak itu mungkin akan tutup lagi besok karena ada acara kampung.
Saya tidak tahu.
Tetapi sekarang saya melihatnya dengan cara yang berbeda.
Barangkali ketika dia menutup warungnya, dia sebenarnya tidak sedang berhenti bekerja.
Dia hanya sedang mengingat bahwa hidupnya lebih besar daripada warungnya.
Mungkin saya juga perlu mengingat hal yang sama.
Pekerjaan adalah bagian dari hidup saya.
Tetapi pekerjaan bukan seluruh hidup saya.
Dan mungkin, sesekali, saya memang perlu menutup warung.
Supaya saya tidak lupa pulang.