HUMANIORA 4_MIN_READ LEVEL: ADVANCED

Secangkir Kopi Sebelum Dunia Mulai Menuntut

Kusuma Dewangga // INSIGHT // DIPUBLIKASI 2026.08.11

ARTICLE INTEGRITY

RETA DATE: ART-26-K

Language: Humaniora

License: MIT

Bagikan: WhatsApp X
Link pendek: https://www.sukasapi.com.kerjabareng.my.id/s/QdVPW6q
Secangkir Kopi Sebelum Dunia Mulai Menuntut
Fig: Secangkir Kopi Sebelum Dunia Mulai Menuntut

Secangkir kopi pagi bukan sekadar kebiasaan, melainkan ritual yang menyatukan budaya, psikologi, dan motivasi kerja dalam satu tegukan hangat.

Ada pagi-pagi tertentu ketika saya membuat kopi bukan karena benar-benar ingin minum kopi.

Saya membuatnya karena setelah itu saya tahu apa yang harus dilakukan.

Menyalakan mesin, mengambil cangkir, menuang air, menunggu beberapa menit. Ada urutan yang sederhana dan familiar. Tidak banyak yang perlu dipikirkan. Semuanya bisa saya kendalikan.

Menariknya, semakin lama saya memikirkannya, semakin saya merasa bahwa mungkin bukan kopinya yang membuat kita siap bekerja.

Mungkin justru karena ritual membuat kopi adalah salah satu bagian kecil dari pagi yang masih sepenuhnya menjadi milik kita.

Ada banyak hal dalam pekerjaan yang tidak bisa kita pilih.

Jam masuk sudah ditentukan. Rapat muncul di kalender. Pesan datang tanpa menunggu kita siap. Tugas berpindah dari satu meja ke meja lain. Target berubah. Prioritas bergeser. Kadang kita bahkan tidak tahu lagi mengapa sebuah pekerjaan harus diselesaikan selain karena memang harus selesai.

Tetapi kopi berbeda.

Kita masih bisa memilih jenisnya.

Mau pahit atau sedikit manis.

Mau diseduh cepat atau pelan.

Mau diminum sambil membaca atau sambil memandangi jendela.

Kecil memang. Tetapi mungkin justru karena kecil itulah ia terasa penting.

Kita mungkin tidak bisa memilih rapat mana yang harus dihadiri, pekerjaan mana yang datang lebih dulu, atau target apa yang harus dicapai. Tetapi kita masih bisa memilih kopi yang kita seduh pagi itu.  Dalam psikologi motivasi, ada gagasan bahwa manusia tidak hanya membutuhkan imbalan atau tekanan dari luar untuk bergerak.  Self-Determination Theory dari Edward Deci dan Richard Ryan menjelaskan tiga kebutuhan psikologis yang berperan dalam motivasi: autonomy, competence, dan relatedness. Dalam konteks pekerjaan, ketika kebutuhan-kebutuhan tersebut lebih terpenuhi, motivasi yang lebih otonom dan keterlibatan kerja cenderung lebih baik.

Saya kemudian berpikir tentang hal yang sederhana: bagaimana kalau ruang untuk merasa punya kendali itu semakin sedikit dalam pekerjaan kita?

Mungkin seseorang masih datang tepat waktu.

Masih membuka laptop.

Masih menyelesaikan tugas.

Masih menjawab email dengan kalimat yang sopan.

Dari luar, semuanya terlihat baik-baik saja.

Tetapi di dalam diri, mungkin yang tersisa hanya kebiasaan.

Dalam kondisi seperti itu, secangkir kopi bisa mendapatkan peran yang sedikit berbeda. Ia bukan lagi sekadar teman untuk meningkatkan kewaspadaan. Ia menjadi semacam titik kecil yang masih bisa kita atur sendiri.

Dan mungkin itu sebabnya ada orang yang merasa sangat membutuhkan kopi sebelum bekerja.

Bukan karena tanpa kopi mereka tidak mampu bekerja.

Barangkali karena kopi telah menjadi bagian terakhir dari ritual yang membuat mereka merasa, setidaknya pagi ini masih dimulai dengan cara yang saya pilih sendiri.

Saya tidak ingin mengatakan bahwa setiap orang yang minum kopi sedang kehilangan motivasi terhadap pekerjaannya. Tentu saja tidak.

Tetapi saya sering merasa ada perbedaan antara orang yang menikmati kopi karena menyukai rasanya dan orang yang menunggu kopi seperti menunggu tombol start.

Yang kedua terasa lebih menarik untuk direnungkan.

Kalau secangkir kopi menjadi satu-satunya alasan kita bersemangat membuka laptop, mungkin ada sesuatu yang lebih besar yang sedang kita cari. 

Mungkin bukan kafein. Mungkin bukan produktivitas. Mungkin hanya sedikit rasa bahwa hari ini masih dimulai atas pilihan kita sendiri.

Dalam kerangka Job Demands–Resources, pekerjaan tidak hanya terdiri dari tuntutan. Ada pula sumber daya yang membantu seseorang tetap terlibat: dukungan, kesempatan berkembang, umpan balik, otonomi, dan berbagai hal yang membuat pekerjaan terasa layak dijalani. Ketika tuntutan terus ada sementara sumber dayanya semakin tipis, pekerjaan dapat terasa semakin menguras energi.

Mungkin karena itu kita sering mencari sumber energi dari luar pekerjaan.

Kopi.

Musik di perjalanan.

Obrolan singkat dengan teman.

Makan siang di tempat favorit.

Atau lima belas menit duduk sendirian sebelum kembali ke meja kerja.

Hal-hal kecil tersebut tidak menyelesaikan persoalan pekerjaan. Tetapi mereka memberi kita ruang untuk mengambil napas.

Dan mungkin, dalam beberapa keadaan, ruang kecil semacam itu adalah alasan mengapa seseorang masih bisa menjalani hari berikutnya.

Itulah yang membuat saya melihat kopi dengan cara yang sedikit berbeda.

Secangkir kopi memang bisa membantu kita bangun.

Tetapi kadang-kadang, yang sebenarnya kita bangunkan bukan tubuh.

Kita sedang berusaha membangunkan kembali alasan untuk memulai.

Bagikan artikel ini

WhatsApp X https://www.sukasapi.com.kerjabareng.my.id/s/QdVPW6q

BERLANGGANAN

Dapatkan Artikel Terbaru

Ingin dapat update artikel terbaru? Hubungi saya lewat form kontak.

KE HALAMAN KONTAK

Artikel Terkait

LIHAT SEMUA ARTIKEL